Sabtu, 19 April 2014






MEMBINGKAI KERUKUNAN HIDUP UMAT BERAGAMA DI PROVINSI RIAU

Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.

Propinsi Riau adalah suatu daerah yang terletak di bagian barat wilayah nusantara yang sangat terkenal dengan khazanah melayunya. Khazanah melayu itu memberikan kesan identik dengan kebudayaan yang Islami, karena Riau merupakan pusat pertumbuhan Islam di kawasan Sumatera, oleh karenanya penduduk Asli Riau adalah beragama Islam.

Dalam catatan sejarah, di Propinsi Riau terdapat beberapa kerajaan yang berdaulat, tumbuh dan berkembang didasari dengan peraturan Islam, seperti Kerajaan Siak di Siak Sri Indrapura dan Kerajaan Lingga di Penyengat.

Dewasa ini penduduk Propinsi Riau telah berjumlah sebanyak 5.088.495 jiwa dengan keragaman pemeluk sebagai berikut :

1. Islam : 4.647.854 (91,34 )

2. Protestan : 170.375 (3,34
)
3. Katolik : 76.653 (1,50 )

4. H i n d u : 6.101 (0,11
)
5. B u d h a : 176.462 (3,46 %)
6. Lain-Lain : 11.050

Potensi kehidupan beragama Riau, selain dapat dilihat dari jumlah pemeluk agama, juga dapat dibuktikan dengan jumlah rumah ibadah yang cukup banyak dengan perincian sebagai berikut :

1. Rumah Ibadah Islam : 10.732 buah
2. Rumah Ibadah Protestan : 1.078 buah
3. Rumah Ibadah Katolik : 216 buah
4. Rumah Ibadah H i n d u : 8 buah
5. Rumah Ibadah B u d h a : 286 buah
=======================
Jumlah : 13.220 buah

Semangat kehidupan beragama masih terlihat segar dalam kehidupan kemasyarakatan, dimulai dari semangat membanjiri dan mengisi rumah ibadah, memperingati Hari-Hari Besar Agama serta sikap prilaku hubungan kemasyarakatan yang selalu ramah, sopan dan berakhlak, miskipun kita melihat kemorosatan ahlak ditandai adanya tindakan kriminal yang terjadi dilingkungan masyarakat, namun masih dianggap sedikit dibanding jumlah penduduk yang ada.

Pembinaan Departemen Agama

Dalam pembangunan kehidupan beragama Riau, ada tiga watak dan karakteristik yang akan kita upayakan yaitu KETAATAN BERAGAMA, KEHDIDUPAN BERAGAMA YANG BERKEMBANG/MAJU, SERTA TERCIPTANYA KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT.

Harapan ini telah dirumuskan dalam Visi dan Missi Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Riau yaitu :

Terujudnya Masyarakat Propinsi Riau yang TAAT melaksanakan Ajaran Agamanya, DINAMIS dan RUKUN yang tercermin dalam kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Tahun 2020 .

Indikator ketaatan adalah dibuktikan antara lain , Bekerja dan beribadah tepat waktu, kepatuhan pada Hukum/norma, Tanpa pamrih, sumgguh mengharap redha Allah Swt, Kesadaran yang tinggi dan tulus, bergairah/ bersemangat.

Indikator dinamis antara lain adalah, Adanya perobahan menuju kemajuan, Tingkat capaian kinerja mengalami peningkatan yang ditandai dengan antara lain peningkatan pendapatan zakat, peningkatan management lembaga keagamaan, peningkatan kemandirian lembaga keagamaan, peningkatan transaparansi, dan lain sebagainya.

Indikator Rukun, diantaranya kehidupan beragama berjalan pada proporsinya masing-masing dengan baik, kecurigaan berkurang, saling menghormati dan menghargai, kebersamaan tercipta dengan baik, taat kepada ketentuan.

Simbol-simbol kehidupan beragama masa lalu dan sekarang, masih terlihat segar dan utuh, seperti adanya mesjid bersejarah, Gereja Tua dipusat-pusat kota, Vihara dan Pura berdiri megah sebagai simbol keteguhan umatnya terhadap kehidupan beragama.

Begitu juga kegiatan perayaan hari besar keagamaan sebagai bagian yang sangat sakral bagi umat beragama, dilaksanakan dengan baik aman dan tertib, termasuk juga berbagai iven-iven keagamaan seperti Musabaqah Tilawati Quran, Loma membaca Kitab suci masing maasing agama dilaksanakan dalam berbagai tingkatan, baik dtingkat daerah maupun berskala Nasional..

Peningkatan Kualitas

Depertemen Agama yang berpungsi membangun kehidupan beragama , adalah melaksanakan amanah UUD 1945, bersifat mengayomi, membinan serta memberi jaminan bagi umat untuk melaksanakan ajaran agamanya secara benar, tanpa mencampuri hal-hal yang perinsip/sakral/tehnis keagamaan itu sendiri.
Oleh karenanya untuk melaksanakan pembinaan tersebut adalah melalui :

1. Pembinaan Rumah Ibadah

Rumah ibadah adalah tempat suci yang menjadi tumpuan peribadatan, kehadirannya ditengah-tengah masyarakat pada umumnya, harus membawa dampak positif kepada kebaikan /moral keagamaan dan kemasyarakatan, yang bernilai peningkatan Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Kuasa.
Maka sendi-sendi yang harus disadari oleh umat pada etika pendirian rumah ibadah dari berbagai aspek hukum dan sosial, serta aktifitas dan manajemen rumah ibadah kepada kemandirian rumah ibadah itu sendiri.

2. Fungsi Dakwah.

Dakwah merupakan bagian yang sangat penting untuk menyampaikan pesan- pesan agama kepada umatnya, untuk membantu missi dakwah ini, miskipun tidak memadai dibandingkan dengan jumlah umat, namun sebagai penyuluh agama di Propinsi Riau diadakan sesuai dengan dana yang tersedia yaitu seperti PAH (Penyuluh Agama Honor) terdiri dari Penyuluh Agama Islam, Kristen,Katholik, Hindu dan Buhda yang tersebar pada berbagai daerah Kabupaten/Kota.
Terhadap missi dakwah diharapkan masing-masing Agama dapat memberikan pesan-pesan Agama dengan baik, dalam rangka meningkatkan Iman dan Taqwa umat beragama di Propinsi Riau khususnya.

3. Keakraban dalam Hubungan Kemasyarakatan.

Umat beragama diharapkan mempunyai hubungan kemasyarakatan yang akrab / harmonis, hubungan yang akrab ini dilandasi oleh kesadaran beragama yang sangat terkait dengan pentingnya hidup yang baik antara sesama manusia.
Harapan ini juga mengarahkan kesadaran umat kepada kepentingan memelihara hubungan umat beragama dan perannya kepada pemerintah serta terhadap penganut agama lainnya.

Potensi Konflik

Sebagaimana disinggung sebelumnya bahwa Propinsi Riau adalah merupakan daerah yang sangat heterogen baik dilihat dari suku, etnis, budaya maupun agama, namun demikian mereka itu hidup rukun dan damai antara satu sama yang lain, saling menghargai dan saling menghormati antara satu pemeluk agama dengan pemeluk agama yang lain, satu pemeluk agama tidak mengganggu pemeluk agama lain melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya itu.

Untuk menilai apakah Propinsi Riau mengandung potensi konfik dapat dilihat dari sudut pandang analisis tentang penyebab terjadinya konflik antar ummat beragama yang telah banyak terjadi di Indonesia seperti di Ambon, Maluku Utara, Poso, Situbondo, Timor Timur (waktu bergabung dengan Indonesia), Sampit, Papaua dan lain-lain sebagainya.

Analisis para pakar tentang penyebab terjadinya konflik antar ummat beragama di Indonesia dapat disimpulkan adalah disebabkan tiga faktor utama yaitu :

1. Faktor ekonomi dan politik.

Faktor ini sangat dominan sebab terjadinya kerusuhan sosial di berbagai daerah di negeri ini adalah disebabkan ketidakpuasan kalangan masyarakat terhadap terjadinya kesenjangan sosial yang sangat tajam antara si kaya dengan si miskin, antara pejabat dengan rakyat jelata, antara ABRI dengan sipil, antara majikan dengan buruh, antara pengusaha besar dengan pedagang kecil, sebagai akibat dari kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang sosial, politik dan ekonomi yang tidak memihak kepada masyarakat bawah. Ketidakpuasan tersebut diwujudkan dalam bentuk protes-protes sosial yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan sosial, ditambah lagi dengan bumbu-bumbu agama yang menopang untuk melegitimasi aksi-aksi tersebut.

2. Faktor agama itu sendiri yang meliputi :

a. Pendirian Rumah Ibadah yang tidak didirikan atas dasar pertimbangan situasi dan kondisi ummat beragama serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Penyiaran Agama yang dilakukan secara agitatif dan memaksakan kehendak bahwa agamanyalah yang paling benar, sedangkan agama orang lain adalah salah. Lebih berbahaya lagi manakala penyiaran agama itu sasaran utamanya adalah orang yang telah menganut agama tertentu.
c. Bantuan Luar Negeri baik berupa materi maupun berupa tenaga ahli yang tidak mengikuti ketentuan yang berlaku, apalagi sering terjadi manipulasi bantuan keagamaan dari luar negeri.
d. Perkawinan Berbeda Agama yang sekalipun pada mulanya adalah urusan peribadi dan keluarga, namun bisa menyeret kelompok ummat beragama dalam satu hubungan yang tidak harmonis, apalagi jika menyangkut akibat hukum perkawinan, harta benda perkawinan, warisan dan sebagainya.
e. Perayaan Hari Besar Keagamaan yang kurang memperhatikan situasi, kondisi, toleransi dan lokasi tempat pelaksanaan perayaan itu. Apalagi perayaan itu dilakukan secara besar-besaran dan menyinggung perasaan.
f. Penodaan Agama dalam bentuk pelecehan atau menodai doktrin dan keyakinan suatu agama tertentu baik dilakukan oleh perorangan maupun kelompok. Penodaan agama ini paling sering memicu terjadinya konflik antar ummat beragama.
g. Kegiatan Aliran Sempalan, baik dilakukan perorangan maupun oleh kelompok yang didasarkan atas sebuah keyakinan terhadap agama tertentu namun menyimpang dari ajaran agama pokoknya.

3. Faktor lokalitas dan etnisitas.

Faktor ini terutama muncul sebagai akibat dari migrasi penduduk, baik dari desa ke kota maupun antar pulau. Selanjutnya masalah etnisitas, Indonesia memiliki potensi disintegratif yang tinggi sebab terdiri dari 300 kelompok etnis yang berbeda-beda dan berbicara lebih dari 250 bahasa. Faktor ini akan menjadi pemicu dengan menguatnya etnisitas seperti penduduk asli atau putra daerah dan pendatang yang dengan mudah dapat menyulut perbedaan-perbedaan yang tak jarang berujung pada konflik, bahkan kerusuhan sosial.

Ketiga faktor tersebut di atas betapapun kecilnya terdapat di Propinsi Riau namun kerukunan sosial masih tetap terjaga disebabkan adanya saling pengertian, saling memahami dan kebebasan melaksanakan ajaran agamanya masing-masing ditambah dengan budaya melayu yang melekat pada warganya yang secara karasteristik terbuka bagi orang, etnis dan agama lain.

Ketahanan Kerukunan

Seperti telah disinggung di muka bahwa Propinsi Riau mengandung kerawanan-kerawanan atau potensi-potensi yang dapat memicu terjadinya konflik sosial dan konflik antar ummat beragama, namun sampai dengan saat ini potensi-potensi konflik tersebut tidak meletus sebab pada kenyataannya semua etnis dan agama yang ada di bumi lancang kuning ini hidup berdampingan, rukun dan damai serta saling hormat menghormati, harga menghargai antara satu sama yang lain.

Adapun faktor utama perekat dari keragaman etnis, budaya dan agama serta peredam dari potensi-potensi konflik sosial dan konflik antar ummat beragama tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pengaruh dari agama itu sendiri yang dianut oleh ummat beragama sebab agama seperti disebutkan oleh Durkheim ibarat Lem Perekat, yang mengikat warga masyarakat supaya berada dalam kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Masyarakat tanpa agama cenderung menjadi kacau, namun dalam keadaan tertentu agama bisa juga menjadi sumber timbulnya konflik, keretakan, petaka dan bahkan peperangan. Pemikir lain bahkan mengatakan bahwa agama mengandung dua unsur, pertama unsur konstruktif dan kedua unsur destruktif. Tugas kita adalah bagaimana menguatkan dan membesarkan unsur konstruktif dan mengecilkan serta meninggalkan unsur destruktif, dan bila perlu merubah unsur destruktif menjadi unsur konstruktif.

2. Pengaruh Budaya Melayu yang melekat pada diri setiap penduduk Propinsi Riau. Budaya Melayu memang sangat dekat dengan budaya Islam dan bahkan Melayu itu identik dengan Islam. Islam adalah merupakan sebuah agama yang sangat menghargai hak dan kewajiban orang atau agama lain. Islam adalah sebuah agama yang sangat toleran terhadap agama lain dan bisa hidup berdampingan dengannya. Islam adalah agama yang mengakui akan agama-agama lainnya dan mengimani para pembawa (Nabinya), seperti mengimani Nabi Isa pembawa agama Kristen, mengimani Nabi Musa, Nabi Daud dan lain sebagainya. Ajaran agama Islam yang sangat toleran ini telah juga menjadi bagian dari Budaya Melayu yang menjadi budaya dari penduduk Propinsi Riau.

Oleh karena itu maka hampir dapat dipastikan selama Budaya Melayu tetap dijunjung tinggi oleh penduduk Propinsi Riau maka konflik sosial atau konflik antar ummat beragama insya Allah tidak akan meletus di bumi lancang kuning ini. Apalagi budaya melayu itu dapat dijadikan bukan hanya sekedar budaya orang Islam, tetapi dapat dijadikan menjadi budaya penduduk Propinsi Riau baik yang beragama Islam maupun yang bukan beragama Islam.
Langkah Pencegahan

Untuk melakukan pencegahan terhadap terjadinya konflik sosial atau konflik antar ummat beragama maka dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan sebagai berikut :

1. Meningkatkan tarap hidup masyarakat yang dibarengi dengan perbaikan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat, sebab dalam kenyataannya konflik yang terjadi di Indonesia pada dasarnya adalah disebabkan faktor ekonomi dan politik, bukan faktor agama itu sendiri, namun agama dipakai sebagai alat justifikasi dan legitimasi.

2. Melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengaturan agama-agama (bukan ajaran/doktrin agama) kepada masyarakat sehingga masyarakat mengetahui secara pasti tentang tata caranya seperti tata cara pendirian rumah ibadah, tata cara penyiaran agama, dan lain sebagainya.

3. Menguatkan kesadaran masyarakat tentang saling memahami dan menghormati posisi masing-masing dan mengedepankan persamaan daripada mempertajam perbedaan.

4. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa sesungguhnya agama itu adalah berasal dari yang satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan ummat manusia itu juga adalah berasal dari nenek yang satu yaitu Nabi Adam as.

5. Memberdayakan institusi keagamaan sehingga dapat lebih mempererat institusi persaudaraan dan memperekat kerukunan antar ummat beragama.

6. Melayani dan menyediakan kemudahan beribadah bagi para penganut agama dan tidak mencampuri urusan akidah / dogma dan ibadah sesuatu agama serta melindungi agama dari penyalahgunaan dan penodaan.

7. Mengembangkan wawasan multi kultural bagi segenap lapisan dan unsur masyarakat melalui jalur pendidikan, penyuluhan dan riset aksi.

8. Mendorong, memfasilitasi dan mengembangkan terciptanya dialog kerjasama antar pimpinan majelis-majelis dan organisasi keagamaan dalam rangka untuk membangun toleransi dan kerukunan antar ummat beragama.

9. Fungsionalisasi pranata lokal seperti adat istiadat, tradisi dan norma-norma sosial (budaya melayu) yang mendukung upaya kerukunan ummat beragama.

10. Melakukan penegakan hukum (Lou Enforcement) terhadap oknum-oknum yang melakukan pelanggaran dan penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan terhadap oknum-oknum yang terlibat dalam kerusuhan sosial dan konflik antar ummat beragama.***

©2008 Kementerian Agama Republik Indonesia Pusat Informasi Keagamaan dan Kehumasan
Halaman ini diproses dalam waktu 0.004630 detik