Kamis, 21 Agustus 2014






KEMENTERIAN AGAMA RUMAH BESAR YANG LAGI BERDUKA

Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hulu
Provinsi Riau

Saat ini keluarga besar Kementerian Agama seluruh Indonesia, sedang larut dalam perayaan Hari Amal Bakti (HAB) ke 66 yang jatuh pada tanggal 3 Januari 2012 yang lalu. Hari Amal bakti adalah hari lahirnya ataupun Hari Ulang Tahun bagi Kementerian Agama, yaitu 3 Januari 1946. Kelahirannya, hanya empat bulan lebih sedikit setelah Indonesia diproklamirkan oleh Faounding Fathers Bangsa ini, Seokarno Hatta. Kelahiran Kementerian Agama termasuk dalam kelompok kementerian yang paling awal didirikan. Hal ini dalam bahasa agama disebut sebagai Assabiqunal Awwalun.

Sejarah mencatat bahwa kelahiran Kementerian Agama termasuk yang unik, sebab Negara satu-satunya di dunia ini yang punya kementerian agama hanyalah Negara Indonesia. Bandingkan dengan Arab Saudi yang hanya punya Kementerian Haji dan Kementerian Zakat dan Wakaf. Hanya sebahagian kecil dari tugas Kementerian Agama di Indonesia. Kelahiran Kementerian Agama adalah atas usul tokoh-tokoh nasional, sebagai kelanjutan dari adanya lembaga kepenghuluan yang mengurusi bidang agama dan keagamaan hampir di seluruh wilayah di Indonesia.

Usul tersebut bak gayung bersambut dengan tugas-tugas pemerintahan yang dijalankan oleh Soekarno-Hatta. Kementerian Agama yang saat itu bernama Departemen Agama pun didirikan dengan Menteri Agama Pertama H. M. Rasyidy. Maka sejak saat itu, secara resmi Kementerian Agama pun berdiri dan pada tanggal itu, hingga saat ini setiap tanggal 3 Januari setiap tahun, kelahiran yang diistilahkan dengan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama diperingati setiap tahun, mulai dari tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi dan hingga tingkat nasional. Peringatan diisi dengan berbagai kegiatan secara swadaya, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Kemenag Rumah Besar

Kementerian Agama memiliki tugas pokok dan fungsi secara umum adalah melakukan bimbingan dan pembinaan dalam pembangunan di bidang agama dan keagamaan, baik yang menyangkut kehidupan beragama maupun yang menyangkut pendidikan agama dan keagamaan. Tugas pokok dan fungsi ini dijabarkan dalam bentuk empat program pokok, yaitu pembinaan kehidupan beragama; pembinaan kerukunan umat beragama; pembinaan kerukunan umat beragama; pembinaan pendidikan agama dan keagamaan; dan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

Tugas pokok dan fungsi tersebut di atas, semuanya diarahkan pada bimbingan dan pembinaan yang terkait dengan semua agama, yang meliputi agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan bahkan Konghucu. Bagi Kementerian Agama tidak ada bedanya enam agama yang hidup di Indonesia, sebab semuanya harus dibimbing dan dibina sehingga dapat menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar serta dapat menjaga hubungan yang harmonis antara satu penganut agama dengan penganut agama yang lain. Yang membedakannya hanyalah pada jumlah penganut, lebih banyak penganut agama tertentu, maka intensitas bimbingan dan pembinaan secara otomatis lebih banyak pula.

Hal yang sama berlaku pula pada jumlah pegawai yang memberikan bimbingan dan pembinaan. Bagi wilayah yang penganut agama tertentunya lebih banyak, maka secara otomatis jumlah pegawai dan struktur yang memberikan pelayanan kepadanya, lebih banyak. Sedangkan bagi jumlah penganut agama yang sedikit, tetap mendapat pelayanan sesuai dengan jumlah agamanya, meskipun penganut agamanya itu satu orang. Semuanya tetap mendapatkan bimbingan dan pelayanan secara proporsional. Dengan demikian, maka tidak ada diskriminasi pelayanan di antara penganut agama yang berbeda-beda, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Atas dasar itu, maka semua persoalan umat beragama di Indonesia mendapat perhatian dalam bentuk bimbingan dan pelayanan oleh Kementerian Agama pada semua tingkatan, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Atas dasar itu pula, maka seluruh masalah umat beragama, baik yang menyangkut kehidupan beragama, kerukunan umat beragama, pendidikan agama dan keagamaan, serta pelayanan ibadah haji dan umrah dapat ditanyakan solusinya pada Kementerian Agama, karena pegawai kementerian agama telah dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan yang terkait dengan bimbingan dan pembinaan agama. Oleh karena itu maka seluruh umat beragama akan senantiasa bersentuhan dan berhubungan langsung setiap saat dengan Kementerian Agama, untuk mendapatkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapinya.

Melihat peran yang sangat besar dari Kementerian Agama, ditambah dengan kebutuhan umat beragama akan Kementerian Agama sebagaimana tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya Kementerian Agama adalah rumah besar tempat mengadu, tempat bertemu, tempat berdiskusi, tempat bersendagurau, tempat bersilaturrahim, tempat memecahkan persoalan social kemasyarakatan dan keummatan, dan tempat kembali bagi seluruh umat beragama. Peranan Kementerian Agama sebagai rumah besar itu, menjadikannya harus mengayomi, melindungi, membimbing dan membina seluruh umat beragama, sehingga dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan kualitas ketinggian ketaqwaan masing-masing di bumi nusantara yang terkenal dengan empat pilar utamanya, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sedang Berduka

Beberapa hari menjelang dilakukannya peringatan HAB ke 66 Tahun 2012, Kementerian Agama diterpa isu miring sebagai akibat dari survey yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang persepsi masyarakat akan korupsi di lingkungan instansi pemerintah. Hasilnya sungguh mengecewakan, Kementerian Agama ditempatkan sebagai kementerian terkorup di Indonesia, dengan indicator korupsi terbanyak di bidang pelayanan ibadah haji; pemberian ijin Penyelenggara Haji Plus dan Kelompok Bimbingan IBadah Haji (KBIH); dan pelayanan nikah dan rujuk. Ketiga hal ini memang sebahagian pelayanan langsung kepada masyarakat yang diberikan oleh Kementerian Agama.

Hasil survey ini sangat mengejutkan seluruh keluarga besar Kementerian Agama, apalagi hasil survey itu dirilis menjelang Kementerian ini memperingati hari ulang tahunnya yang ke 66 pada tanggal 3 Januari 2012. Akibat survey ini dapat dibayangkan betapa jeleknya persepsi masyarakat akan kredibiltas pegawai Kementerian Agama, padahal kementerian ini adalah kementerian yang melakukan bimbingan dan pembinaan soal agama, moralitas dan nilai-nilai luhur agama, seperti kejujuran, keadilan, persamaan, kebersamaan dan lain sebagainya.

Persoalannya adalah apakah sejelek itu Kementerian Agama, bukankah penetapan biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) ditetapkan secara bersama-sama antara pemerintah dengan DPR. Bukankah Standar Operasional Prosedur (SOP) pemberian ijin penyelenggara haji plus dan KBIH telah ada dan diumumkan secara terbuka. Pelayanan NIkah dan Rujuk pada KUA Kecamatan, apakah biayanya sudah terlalu mahal dibandingkan dengan biaya pesta perkawinan. Kadang-kadang diakui bahwa Kepala KUA ataupun Penghulu Nikah menerima bayaran lebih sedikit dari calon pengantin, tetapi apakah ini tidak wajar bila dibandingkan dengan pelayanan yang diberikan di rumah calon pengantin, padahal seharusnya di kantor. Ditambah lagi dengan pelayanan Nikah pada umumnya hari Sabtu dan Minggu, padahal kedua hari ini adalah hari libur bagi PNS.

Atas semua masalah ini, sampai-sampai Menteri Agama H. Surya Darma Ali (SDA) menanggapi hasil survey KPK itu dengan menyatakan, Kami (Kementerian Agama) bukanlah malaikat yang tidak pernah berbuat salah dan kami juga bukanlah Syethan yang kerjanya menjerumuskan orang ke jurang kemaksiatan dan kehinaan. Ucapan Menteri Agama ini bukanlah pembelaan diri atas sebuah kesalahan atau bahkan pembenaran diri. Tetapi siapapun tahu bahwa Kementerian Agama tidaklah sejelek itu. Namun demikian, Sang Menteri tentu berharap agar para pegawainya berbenah diri, memperbaiki diri ke arah yang lebih baik di masa-masa yang akan datang. Jangankan manusia, kambing saja tidak mau masuk lobang dua kali.

Terlepas dari benar atau tidaknya hasil survey itu, tentu hasil survey ini harus dihormati, dihargai dan diberi apresiasi. Namun demikian ini adalah kado ulang tahun yang sangat berat yang harus diterima oleh seluruh pegawai Kemeterian Agama di seluruh Indonesia. Pada satu sisi Kementerian ini sedang berbahagia merayakan hari ulang tahunnya yang ke 66, namun pada sisi lain dia juga sedang berduka atas stigma koruptor itu. Sehingga tidak salah jika dikatakan, Kementerian Agama yang jadi rumah besar bagi semua pemeluk agama ini, sedang berduka di hari ulang tahunnya yang ke 66.***

©2008 Kementerian Agama Republik Indonesia Pusat Informasi Keagamaan dan Kehumasan
Halaman ini diproses dalam waktu 0.004040 detik